Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta

Lembaga survei KedaiKOPI merilis hasil survei perihal mudik. Hasilnya, 84, 8 komisi responden menyatakan tidak akan melakukan mudik setelah pendidikan adanya peraturan yang melarang kegiatan mudik di Lebaran 2021 ini.

Survei ini diselenggarakan sebab Lembaga Survei KedaiKOPI di dalam 15-21 April 2021. Inspeksi dilakukan dengan metode face to face interview pada 1. 215 responden dengan berada di 34 provinsi. Margin of error inspeksi ini ± 2, 81% pada interval kepercayaan 95, 0%.

“Tingginya angka yang memutuskan untuk tidak melakukan mudik pasca mengetahui larangan dari negeri merupakan hal baik di dalam menekan penyebaran COVID-19 walaupun masih ada 10, 0% responden yang masih lalai, dan 5, 2% membuktikan akan tetap melakukan pegangan di Lebaran 2021 tersebut, ” kata Peneliti Superior Lembaga Survei KedaiKOPI, Rizky Anggia, dalam keterangan tercatat, Minggu (9/5/2021).

Survei ini serupa mengungkapkan bahwa sebagian gede publik setuju dengan adanya larangan mudik dari negeri. Sebanyak 60, 5% responden menyatakan bahwa mereka setuju dengan adanya larangan mudik. Sedangkan 39, 5% responden menyatakan tidak setuju.

“Alasan publik sedang melakukan mudik pun beragam meski alasan rindu dengan keluarga di kampung dan pentingnya Silahturahmi masih menjadi alasan utama dengan 66, 8%, diikuti oleh haluan mudik yang masih mulia provinsi dengan 9, 7%, dan mudik asal sedang mengikuti protokol kesehatan secara 9, 0%, ” tinggi Rizky.

Namun alasan tidak mudik antara lain masih tinggal di kawasan yang sama (44, 4%), adanya larangan pemerintah (16, 8%), dan khawatir tersedia COVID-19 (12, 9%).

“Namun, hanya 35, 9% responden yang membuktikan akan mudik juga hendak melakukan tes COVID-19 pra mudik, sedangkan 37, 5% menyatakan tidak, dan 26, 6% menyatakan mereka belum tahu. Sedangkan, untuk melangsungkan isolasi mandiri, 43, 9% menyatakan tidak akan melaksanakan isolasi mandiri, sebanyak 36, 5% menyatakan akan menyelenggarakan isolasi mandiri, dan 19, 6% lainnya menyatakan belum tahu, ” kata Rizky.

Selain itu, dari responden yang mau melakukan mudik tahun itu, sebanyak 51, 3% mau mudik pada minggu keempat Ramadhan. Kemudian disusul mau melakukan mudik setelah Lebaran sebanyak 14, 4%, rata-rata Ramadhan sebanyak 14, 3%, dan hari-H Lebaran 9, 0%.

Analis Komunikasi Politik, Hendri Satrio, mengatakan, meski kesadaran kelompok untuk tidak mudik telah tinggi, pemerintah tetap harus waspada. Terutama, lanjutnya, mewaspadai adanya klaster baru dalam tempat wisata.

“Meski kesadaran masyarakat sudah tinggi mengenai COVID-19 yang terlihat dari respons bangsa terhadap larangan mudik ini, namun pemerintah harus mewaspadai dibolehkannya pariwisata saat pembatasan mudik ini agar tak menimbulkan klaster-klaster baru bagaikan halnya liburan-liburan sebelumnya selama masa pandemi ini, ” ujar Hensat.

Selain itu, menurutnya, menetapkan ada sinergi dari pemerintah dan masyarakat agar bisa memastikan tidak adanya kasus-kasus baru. “Sinergi pemerintah serta masyarakat menjadi kunci di dalam menyelesaikan permasalahan ini. Di dasarnya masyarakat akan menurut dengan kebijakan pemerintah, oleh karena itu pemerintah kudu bisa mengkomunikasikan secara molek kebijakannya, ” kata Hensat.

Hal tersebut diamini oleh jurnalis senior, Agus Rakasiwi. Menurut Agus, pemerintah harus mewaspadai minggu-minggu akhir menuju Lebaran agar dapat menekan angka penyaluran COVID-19.

“Mungkin perlu ditekankan bahwa negeri masih harus terus mengkomunikasikan mengenai protokol kesehatan itu, dan juga mengkomunikasikan kebijakan secara lebih baik supaya tidak menimbulkan kesimpangsiuran pertama mengenai permasalahan aglomerasi & mudik lokal, ” kata Agus.

(mae/imk)