Bamako

Otoritas Mali membebaskan lebih dari 100 tersangka atau terpidana jihadis demi pembebasan politikus sempurna dan seorang relawan kemanusiaan Prancis yang disandera. Pembebasan massal sama dengan ini tergolong langka di Mali yang dilanda pemberontakan.

Seperti dilansir AFP , Senin (5/10/2020), Mali yang terletak di Afrika Barat telah 8 tahun terakhir dilanda perlawanan Islamis yang menewaskan ribuan orang.

Soumaila Cisse, yang mantan pemimpin oposisi dan tiga kali menjadi calon presiden (capres), diculik pada 25 Maret berantakan saat menggelar kampanye di daerah Niafounke menjelang pemilu legislatif. Sedangkan Sophie Petronin, yang seorang pekerja amal Prancis, diculik oleh sekelompok pria bersenjata pada 24 Desember 2016 di kota Gao. Petronin menjadi warga Prancis terakhir yang disandera di luar negeri.

Video terakhir yang menampilkan Petronin diterima pada Juni 2018. Di dalam video itu, dia tampak kelelahan dan kurus, dan memohon pada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membebaskan dirinya. Sebuah video yang lain yang muncul pada November 2018, yang tidak menampilkan langsung Petronin, para penculiknya menyebut kesehatannya memburuk.

“Sebagai bagian dibanding negosiasi untuk mendapatkan pembebasan Soumaila Cisse dan Sophie Petronin, bertambah dari 100 tahanan jihadis dibebaskan pada akhir pekan ini, ” tutur salah satu orang dengan bertanggung jawab atas negosiasi pada AFP . Jati orang ini tidak bisa diungkap ke publik.

Dengan terpisah, seorang pejabat pada dinas keamanan Mali mengonfirmasi informasi itu. Disebutkan pejabat, yang juga tak disebut namanya itu, bahwa para tahanan jihadis dibebaskan di provinsi Niono dan Tessalit setelah tiba dengan pesawat.

Seorang anggota parlemen di wilayah Tessalit, yang enggan disebut identitasnya, mengonfirmasi kepada AFP bahwa ‘sejumlah besar tangsi jihadis’ tiba di sana di Minggu (4/10) waktu setempat.

Otoritas Mali mencurigai bahwa kelompok terkait Al-Qaeda, yang dipimpin oleh Amadou Koufa dan rajin di wilayah Mali bagian sedang, berada di balik tindak penculikan tersebut.

Pembebasan ini diputuskan saat pemerintah interim menguasai Mali selama 18 bulan sebelum pemilu digelar usai junta tentara melengserkan Presiden Ibrahim Boubacar Keita pada Agustus lalu. Penculikan bekas pemimpin oposisi Cisse menjadi lengah satu faktor yang mengobarkan ulah protes besar-besaran yang berujung penggulingan Keita, yang dianggap gagal mengatasi para jihadis dan pemberontakan Agama islam.

(nvc/ita)