Jakarta

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memutuskan masjid akan tetap beroperasi di tengah kebijakan baru yang akan dikeluarkannya. Kebijakan yang melarang perkumpulan massa lebih dari enam orang baik di luar maupun di dalam ruangan dikeluarkan memikirkan adanya lonjakan kasus COVID-19.

Menurut Johnson, masjid serta tempat ibadah lainnya akan menjadi pengecualian dari aturan baru. Tempat-tempat tersebut akan tetap beroperasi secara mengikuti protokol kesehatan COVID-19 dengan ketat.

“Akan tersedia beberapa pengecualian terbatas. Misalnya, bila satu rumah tangga lebih besar dari enam orang, mereka sedang bisa berkumpul. Tempat aman COVID itu seperti rumah ibadah, gym, restoran, dan perhotelan masih dapat menampung lebih dari enam orang. Namun di tempat tersebut, tidak boleh ada kelompok individu dengan lebih besar dari enam, dan kelompok tidak boleh bercampur secara sosial atau membentuk kelompok yang lebih besar, ” jelas dia dikutip dari 5 Pillars UK.

Adapun, aturan tersebut mau mulai diterapkan pada Senin (14/9) mendatang. Masyarakat Inggris tidak diizinkan membuat perkumpulan lebih dari enam orang. Bila melanggar, akan tersedia hukuman denda hingga penangkapan.

“Jadi di Inggris, berangkat Senin, kami akan memperkenalkan enam aturan. Kamu tidak diperbolehkan untuk berkumpul grup lebih dari enam orang, jika melakukannya, kamu hendak melanggar hukum. Ini berlaku pada semua tempat, baik di di ruangan maupun di luar ruangan, di rumah atau di wadah umum, ” sambungnya.

“Larangan itu akan diatur dalam undang-undang dan akan ditegakkan sebab polisi dan siapapun yang melanggar aturan berisiko dibubarkan, didenda, dan mungkin ditangkap, ” ungka dia.

Sementara itu, langgar di Inggris pada umumnya telah dibuka kembali pada Juli kemarin sesudah berbulan-bulan ditutup akibat lockdown. Zaman itu, masjid beroperasi dengan langkah-langkah jarak sosial yang ketat.

(pay/erd)